Selasa, 07 Februari 2012

Kursi Panas

Kelas yang satu ini adalah kelas yang seringkali menjadi buah bibir guru-guru di levelnya. Kelas yang cukup variatif, unik, dan menggemaskan. Banyak jawara-jawara yang sering membuat guru-gurunya cukup kewalahan. Dan ketika jawara-jawara itu sedang ingin menunjukkan aksinya, maka kelas itu pun akan crowded dan riuh, bahkan sampai terdengar suara tangis.
            Beberapa treatment telah diujicobakan oleh sang wali kelas untuk mengatasi para jawara yang seringkali menjadi trouble maker. Namun, belum tampak hasil yang cukup significan. Akhirnya , wali kelas tersebut memintaku untuk membantu mengatasi dalam mengendalikan serta mendinamisasikan anak-anak kelas satu itu.
            Beberapa hari aku intensif dalam melakukan observasi di kelas tersebut. Kulihat dinamika kelas, cultur kelas, dan sikap masing-masing anak. Kelas yang cukup menarik! Anak-anak putri yang punya ritme lamban, suka mengobrol saat pelajaran, daya kompetisi rendah dan bersikap manja, terlebih dengan guru putra. Sedangkan anak-anak putra punya ritme yang bertolak belakang, sebagian besar dari mereka mempunyai daya kompetisi tinggi, cepat mengerjakan tugas, dan cukup aktif. Nah, yang cukup menjadi sorotan pada kelas ini adalah dua anak putra yang punya potensi berbeda dan mereka berkolaborasi yangmana seringkali membuat kelas akan tampak lebih kacau.
            Kubuat beberapa alternatif treatment untuk kelas tersebut. Sambil dlakukanj beberapa saran threatment, maka ada salah satu guru yang memberikan usulan, yaitu kursi panas. Kursi yang disediakan untuk anak-anak yang melanggar aturan. Mereka hanya cukup disuruh duduk di kursi itu tanpa boleh ada yang mengajaknya bicara.
Suatu hari, guru itu mendeklarasikan “hadiah” buat anak yang tidak tertib. Hadiahnya adalah duduk di kursi panas. Mendengar kata kursi panas, anak-anak jadi heboh. Banyak kata yang keluar dari mulut mungil mereka.
” Kursi panaas? Kursi yang ada apinya ya?”
”Wah....kursi panas, nanti kita jadi kobongan (kebakaran)”
”Nanti kita jadi gosong donk!”
Kami, guru-guru yang duduk di belakang, tertawa mendengar celoteh anak-anak, sedangkan guru yang di mendeklarasikan kursi panas tersebut kewalahan meladeni pertanyaan dan pernyataan anak-anak. Bukannya tertawa diatas derita orang lain, kami hanya tidak ingin saja menambah keriuhan di kelas, jadi cukup satu guru yang menerangkan.
Wah....konkrit sekali pemikiran anak-anak ini. Ekspresi terkejut, ketakutan, dan rasa keingin tahuan tentang sebuah kursi panas itu yang membuatku tersenyum jika mengingatnya. Tapi, tak cukup hanya tersenyum, segera kubuat rancangan treatment berupa reward-reward untuk memotivasi mereka bersikap baik dan tidak terbayang-bayang oleh kursi panas (yang dalam bayangan mereka adalah sebuah kursi yang di bawahnya ada apinya sehingga akan terasa panas jika kita duduk di atasnya).
Tahukah mereka...bahwa tempat yang digunakan untuk kursi panas adalah salah satu sofa empuk berwarna kuning yang berbentuk bundar dan ditulisi kursi panas dengan selembar kertas. Ya...sofa empuk ini kini menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan bagi mereka hanya karena dibahasakan sebagai kursi panas. Kursi untuk anak-anak yang mendapatkan theathment karena melanggar peraturan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar