Kelas yang satu ini adalah kelas yang seringkali menjadi buah bibir
guru-guru di levelnya. Kelas yang cukup variatif, unik, dan menggemaskan.
Banyak jawara-jawara yang sering membuat guru-gurunya cukup kewalahan. Dan
ketika jawara-jawara itu sedang ingin menunjukkan aksinya, maka kelas itu pun
akan crowded dan riuh, bahkan sampai terdengar suara tangis.
Beberapa treatment telah diujicobakan oleh sang
wali kelas untuk mengatasi para jawara yang seringkali menjadi trouble maker. Namun, belum tampak hasil
yang cukup significan. Akhirnya , wali kelas tersebut memintaku untuk membantu
mengatasi dalam mengendalikan serta mendinamisasikan anak-anak kelas satu itu.
Beberapa hari aku intensif dalam melakukan
observasi di kelas tersebut. Kulihat dinamika kelas, cultur kelas, dan sikap
masing-masing anak. Kelas yang cukup menarik! Anak-anak putri yang punya ritme
lamban, suka mengobrol saat pelajaran, daya kompetisi rendah dan bersikap
manja, terlebih dengan guru putra. Sedangkan anak-anak putra punya ritme yang
bertolak belakang, sebagian besar dari mereka mempunyai daya kompetisi tinggi,
cepat mengerjakan tugas, dan cukup aktif. Nah, yang cukup menjadi sorotan pada
kelas ini adalah dua anak putra yang punya potensi berbeda dan mereka
berkolaborasi yangmana seringkali membuat kelas akan tampak lebih kacau.
Kubuat
beberapa alternatif treatment untuk kelas tersebut. Sambil dlakukanj beberapa saran threatment, maka
ada salah satu guru yang memberikan usulan, yaitu kursi panas. Kursi yang
disediakan untuk anak-anak yang melanggar aturan. Mereka hanya cukup disuruh
duduk di kursi itu tanpa boleh ada yang mengajaknya bicara.
Suatu hari, guru itu mendeklarasikan “hadiah” buat anak yang tidak tertib. Hadiahnya adalah duduk di kursi panas. Mendengar kata “kursi panas”, anak-anak jadi heboh. Banyak kata yang keluar
dari mulut mungil mereka.
” Kursi panaas? Kursi yang ada
apinya ya?”
”Wah....kursi panas, nanti
kita jadi kobongan (kebakaran)”
”Nanti kita jadi gosong donk!”
Kami, guru-guru yang duduk di
belakang, tertawa mendengar celoteh anak-anak, sedangkan guru yang di
mendeklarasikan kursi panas tersebut kewalahan meladeni pertanyaan dan
pernyataan anak-anak. Bukannya tertawa diatas derita orang lain, kami hanya
tidak ingin saja menambah keriuhan di kelas, jadi cukup satu guru yang
menerangkan.
Wah....konkrit sekali
pemikiran anak-anak ini. Ekspresi terkejut, ketakutan, dan rasa keingin tahuan tentang sebuah kursi panas itu yang membuatku tersenyum
jika mengingatnya. Tapi, tak cukup hanya tersenyum, segera kubuat rancangan
treatment berupa reward-reward untuk memotivasi mereka bersikap baik dan tidak
terbayang-bayang oleh kursi panas (yang dalam bayangan mereka adalah sebuah kursi yang di bawahnya ada apinya sehingga akan terasa
panas jika kita duduk di atasnya).
Tahukah mereka...bahwa tempat
yang digunakan untuk kursi panas adalah salah satu sofa empuk berwarna kuning
yang berbentuk bundar dan ditulisi kursi panas dengan selembar kertas.
Ya...sofa empuk ini kini menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan bagi
mereka hanya karena dibahasakan
sebagai kursi panas. Kursi untuk anak-anak yang mendapatkan theathment karena melanggar peraturan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar